REFORMED-INJILI?

Monday, July 23, 2012

TANTANGAN UNTUK PARA PENDETA REFORMED INJILI SOAL YOHANES 6:37, 44, 65

Frase ini paling sering dikutip para kroni2 Stephen Tong tanpa mengerti KONSTRUKSI sebenarnya dari nats ini (Yoh 6:37, 44, 65).

Kemungkinan besar cara membacakan TULIP ke nats ini adalah STANDAR CARA BACA yang diwariskan turun temurun sejak munculnya aliran sempalan katolik ini.

"except the Father . . . may-draw (subjunctive mood) him." Kalo indicative mood baru boleh disalin "draw."

Ini konstruksi third class condition, yaitu if (ean).

Third class memakai “if” (ean) plus may-draw, kata kerja subjunctive/potential mood digunakan untuk menunjuk pada sebuah future condition, bukan aktual/realitas.

Third Class Condition IF + kata kerja subjunctive adalah sebuah kontruksi standard bahasa asli PB untuk menunjuk pada kondisi/syarat untuk materialisasinya si kata kerja—sesuatu yang belum atau tidak terjadi secara actual. Jadi struktur ini sekedar future probability!

Blunder besar dengan membacakan TULIP ke dalam nats ini adalah pengabaian kolosal struktur asli nats ini.

Third class condition plus kata kerja potensial hanya bicara tentang sesuatu yang mungkin bisa terjadi, bukan kepastian (itu pake indicative mood).  Itulah fungsi subjunctive/potential mood!

Kalo predestinasi dan realitas TIDAK BISA pake if (ean) plus mood probability!

Jika Roh Kudus melalui penulis PB ingin mengungkapkan sesuatu yang actual terjadi maka mereka SELALU menggunakan bentuk mood indikatif.

Dalam Yohanes 6:37, 44, 65 inilah mood yang digunakan—future probability; bukan reality seperti presumsi TULIP para calvinis.

Mood subjunctive/future probability dalam ay 37, 44, 65 TIDAK BISA diharmoniskan dengan irresistible grace akibat predestinasi.

Untuk mendukung irresistible grace-nya predestinasi, harus menggunakan first class “IF” (ei, bukan ean) dan HARUS menggunakan kata kerja passive voice, bukan aktive voice! Dan kata kerja passive itu HARUS dalam indikatif mood, bukan mood probability!

Dalam ketiga ayat ini semuanya menggunakan “IF” (ean) plus kata kerja subjunctive/potential untuk menunjukkan probability, tepatnya future probability—SAMA SEKALI BUKAN pasif indikatif.

Alangkah MUSTAHILNYA secara gramatika dan sintaksis untuk membaca predestinasi, irresistible grace dan total inability dari dalam ayat2 ini. Itu hanya bisa oleh MUJIZAT YANG DIKERJAKAN TULIP!

Biar kalian bumbui dengan frase “kedaulatan Allah” juga tidak akan ada unsur TULIP dalam nats ini.

Mustahil bin impossible karena Allah Roh Kudus menginspirasikan nats ini MELALUI, OLEH dan DI DALAM STRUKTUR KONSTRUKSI nats ini yang bersifat future conditional, a future probability; bukan bentuk pasif dan actual atau indikatif.


TULIP merampok begitu banyak berkat yang terbungkus dalam struktur dan konstruksi firman Allah.


Betapa membabi butanya orang2 STTRI yang bisanya tereak2 lantang tentang orang dilahirkan kembali dalam nats2 ini. Kasian sekali. Cuma ada banyak asapnya. Tidak ada terangnya sama sekali. Karena sifat dan ekspresi nats DIGELAPKAN, dibungkamkan, dihilangkan TULIP!

Apa katamu dosen Perjanjian Baru di STTRI dan di SAAT?

Kalo bisa dan kalo ada nyali coba tunjukkan predestinasi dan irresistible grace dari struktur third class condition dan subjunctive mood. Mustahil bin impossible.

Aneh, bin ajaib aliran pecahan Katolik ini!

Wallahu alam bisawab!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home